Langsung ke konten utama

Kebiasaan Menyirih dan Risiko bagi Kesehatan

 Budaya dan Tradisi Menyirih

Menyirih adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang sangat berharga. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. 
Di Nusa Tenggara Timur, tradisi ini masih sangat relevan bagi seluruh usia. Penggunaan rekreasional maupun medis menjadi alasan dari populernya tradisi ini.
Di Pulau Raijua, kebiasaan menyirih bukanlah sekedar kebiasaan makan seperti lazimnya, melainkan tradisi budaya yang sarat makna filosofis dan seringkali menjadi simbol penyambutan hangat dan ramah tamah masyarakat setempat. Kegiatan menyirih selalu ada dalam setiap acara adat dan acara keluarga. Sirih dan pinang menjadi jamuan yang tidak terlewatkan, baik itu saat acara adat *Pinangan* atau sering disebut Kenoto, pembicaraan adat dan acara adat lainnya. 
(Foto by Z Creators/Muhammad Rodji

Bagi masyarakat di Pulau Raijua terutama di kelompok dewasa (orang tua) menyirih diyakini sangat berkhasiat untuk menjaga kesehatan mulut, dapat menguatkan gigi, meningkatkan stamina, dan menghilangkan kantuk. Hanya saja dalam kebiasaan menyirih tidak sebatas sirih dan pinang saja tetapi seringkali ditambahkan bahan lain seperti kapur dan tembakau. 
Adapaun Risiko Kesehatan: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan fibrosis submukosa dan risiko kanker mulut.

Berbagai riset dan laporan dari badan-badan resmi, seperti World Health Organization, melaporkan bahwa kebiasaan mengunyah sirih pinang berpotensi mengakibatkan kanker mulut pada manusia.
Berdasarkan literatur review, tradisi menginang memiliki sisi positif dan sisi negatif. 
  • Sisi positifnya :  menyirih mampu mengurangi terbentuknya karies dalam gigi, mengurangi pembengkakan dan demam, serta memperkuat gigi. Hal ini karena daun sirih dan biji pinang mengandung senyawa antibakteri, antidepresan, antifungal, antioksidan, antialergi, antidiabetes, dan antiparasit.
  • Sisi negatifnya : 
    1. Gangguan pada gigi dan tulang rahang, lidah, rongga mulut, dan gusi.
    2. Penyakit yang paling umum muncul sebagai akibat dari menyirih antara lain kalkulus, periodontitis, atrisi, gigi tanggal, dan staining (pewarnaan).
Penelitian Hsiao pada tahun 2015 membuktikan bahwa meskipun menginang mampu mengurangi risiko karies, kalkulus yang ditinggalkan akibat menginang berpotensi mengotori dan menumpuk di gigi, sehingga risiko penyakit gusi dan gigi pun meningkat. Mendukung hasil penelitian sebelumnya, penelitian Ritonga et al. (2019).
Jika demikian, kebiasaan menyirih bukanlah hal yang sepenuhnya salah, tradisi tetap harus di jaga tetapi patut memperhatikan apa bahan yg di gunakan baik untuk kesehatan jika di konsumsi dalam waktu yang lama, terutama untuk kapur dan tembakau. 
Ayo Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut agar terhindar dari masalah kesehatan gigi dan mulut.

Daftar Pustaka  





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skrining Kesehatan gigi Kelompok Anak Usia Dini

Skrining kesehatan gigi pada anak usia dini (3-5 tahun) merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di oleh tenaga kesehatan gigi di UPTD Puskesmas Ledeunu . Kegiatan dilakukan pada kelompok anak usia dini di PAUD dan TK yang ada di wilayah kerja UPTD PUskesmas Ledeunu, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuan Kegiatan ini adalah sebagai kegiatan Preventif dan promotif. yang dalam pelaksanaan kegiatan mencakup kegiatan : 1. Deteksi dini : Pemeriksaan rutin membantu menemukan dan mencegah kerusakan gigi pada anak. 3. Memberikan Edukasi kepada anak-anak tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini.